Artikel ini saya mulai ketik pukul 1 dini hari. Tentu adalah
waktu bagi sebagian besar orang untuk beristirahat. Dan sebagian yang lain
menjaga istirahatnya orang-orang agar makin tenang dan nyenyak. Namun tidak
dengan orang-orang seperti saya, yang terjaga hanya untuk melakukan sesuatu
yang jika orang lain nilai sangat tidak penting. Yaps! Menanggapi persoalan
sosial.
Di tengah sibuknya pengerjaan
skripsi yang menurut saya lebih pas dikerjakan oleh remaja usia 24 ke bawah,
rupanya mau tak mau saya pun harus ikut di dalamnya berikut dengan
persoalan-persoalan yang ada baik individu maupun kelompok. Sebuah hal yang
cukup sebagai bahan lawakan bagi pemuda usia 27 ke atas. Tapi tak mengapa. Saya benar-benar tidak bermaksud membedakan usia, golongan, atau apapun itu. Justru
dengan demikian saya bisa merefleksikan diri bagaimana saya pada masa lalu. Ada
seni tersendiri yang harus dipelajari ketika harus berbaur di lingkup generasi Z. Berbeda?
Pasti!
Bicara mengenai seni, tak
mengikat hanya pada suatu yang bersifat hiburan. Namun dalam bersikap pun juga
ada seninya. Contoh saja seni dalam mengungkapkan sebuah penyesalan. Singkatnya
seni dalam meminta maaf. Banyak yang salah sangka dan mengira, kalimat “Maaf
saja tak cukup” berarti seseorang (yang kita mintakan maaf) tersebut menginginkan
hal lebih. Hal ini dikarenakan ungkapan
permintaan maaf hanya dijadikan sebuah formalitas. Menjadikan sebuah permintaan
maaf adalah syarat agar masalah cepat selesai, tapi tidak ada penyesalan dalam
dirinya. Tak hanya itu, ungkapan maaf seharusnya diniatkan untuk menjaga sebuah
hubungan kekerabatan dan silaturahmi agar tidak terputus, dan menjadi lebih
baik lagi. Itu yang banyak orang lain lupakan (mungkin saya pun juga demikian
tanpa disadari). Seperti halnya bela diri, tidak melulu tentang memukul dan menangkis.
Serang dan bertahan. Tetapi ada muatan unsur seni di dalamnya yang juga patut
untuk dipahami. Atau sulap, bukan soal berhasil tidaknya sebuah trik untuk
mengelabui orang. Tetapi bagaimana membawa trik sulap tersebut dengan seni agar
orang lain terpukau dan terkesima. Meminta maaf pun demikian, seni dalam
mengungkapkan kata maaf sangatlah penting.
Pada sebuah artikel yang pernah
saya baca, ada 4 seni meminta maaf. Pertama soal waktu. Tidak ada waktu
terlambat untuk meminta maaf bukan berarti setiap permasalahan atau setiap kita
merasa bersalah harus segera meminta maaf. Tapi cari waktu yang pas sehingga
ungkapan maaf kita bisa dimengerti dan segera diterima. Yaitu ketika kita telah
menganalisis situasi dan khawatir tentang apa yang terjadi. Pastikan emosi kita
dalam kondisi terbaik dan menemukan cara untuk mengungkapkan maaf tersebut. Hal
ini menjadikan ungkapan maaf tidak sebatas ucapan, namun benar-benar atas dasar
penyesalan yang mendalam, membangun kembali dinding kepercayaan yang runtuh,
serta berusaha untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya alias tidak mengulangi
kembali kesalahan. Mengapa ini penting, karena tidak semua orang mau menerima
maaf kita dan mau mengerti kita sesegera mungkin. Mereka yang kita mintakan
maaf terkadang butuh waktu untuk “sendiri”, mencari cara bagaimana untuk bisa
kembali percaya pada kita. Mengandalkan kalimat “yang penting aku dah minta
maaf” cukup berbahaya. Itu sama sekali tidak mencerminkan kita untuk menyesali
apa yang kita perbuat sebelumnya. Silahkan gunakan kalimat tersebut, ketika
seluruh usaha kita dalam meminta maaf sudah kita lakukan. Lantas apakah ada hal
lain?
Kedua yaitu fokus pada empati dan
akui tindakan. Tidak berbeda dari yang saya sampaikan sebelumnya, yaitu
mengakui kesalahan. Bersikap empati dapat memberi tahu siapapun yang ingin kita
temui untuk meminta maaf bahwa kita peduli dengan perasaan mereka. Akui bahwa
kita menyesal telah melakukan kesalahan. Dan perlakukan tersebut mungkin
membawa dampak buruk bagi mereka. Ini penting karena dengan demikian kita menunjukkan
bahwa kita menghargai mereka dan menganggap mereka penting. Serta mengembalikan
keadaan menjadi rukun dan tenteram kembali.
"Analogi semangkuk sup. Jika semangkuk sup kita bawa sambil berlari, maka bukan tak mungkin sup tadi tumpah entah kemana. Dan yang awalnya punya tampilan cantik menggunggah selera, menjadi berantakan bak muntahan kucing yang tak karuan."
Selanjutnya adalah “membawakan
sesuatu” untuk mereka. Definisi “membawakan sesuatu” tidak harus berupa benda. Atau
diartikan sebagai sebuah “sogokan” atau hal negatif lainnya. Justru cara ini
menunjukkan bahwa kita serius berusaha lebih dan ingin membuat hubungan terasa
lebih baik. Saya teringat kejadian sekitar tahun 2008 silam, ketika saya harus “bermusuhan”
dengan teman dekat saya. Saya dan teman saya yang ketika itu masih sama-sama
bocah pada sekolah menengah, di mana kala itu ego dari masing-masing kita cukup
kuat. Kalimat “Ah gitu doang” menjadi andalan meski secara tersirat. Tetapi pada
kala itu saya sadar bahwa saya berada pada posisi yang salah. Saya membuat
teman saya marah karena saya tidak sengaja terlalu dekat dengan seorang gadis
yang ternyata dia adalah pacarnya. Saya tidak ada hubungan apa-apa, hanya
sebatas teman biasa. Mungkin jika ini diceritakan sekarang, maka bukan tidak
mungkin pendapat semacam “Njirr cowo kok baperan” muncul. Ucapan maaf saya nilai tidak
akan mempan saat itu. Karena yang saya inginkan adalah hubungan pertemanan
segera membaik. Termenung. Akhirnya saya menemukan cara, yakni perform dengan beberapa
trik sulap yang saya pelajari. Berharap teman saya tertarik salah satu trik dan
ingin mempelajarinya. YES!!! Cara itu ampuh! Dan ketegangan antara saya dan
teman saya pun berakhir dengan cepat, semuanya kembali normal, api pun padam. Tentu
saja itu saya selipkan ungkapan maaf meski cukup tersirat. Pikirkan hal apa
yang kiranya itu dapat diselingi ungkapan maaf. Tidak harus ungkapan yang
tersurat. Tersirat pun boleh. Beri sesuatu yang mereka suka, menyenangkan, dan
semangati mereka. Kadang bentuk perhatian kecil sudah cukup menunjukkan
keseriusan kita dalam mengungkapkan maaf. Tidak harus mahal, kan?
Terakhir, biarkan. Ketika segala
macam usaha tidak membuahkan hasil, tetaplah untuk tenang. Kalimat, “Yang
penting aku dah minta maaf” sepertinya mulai bisa digunakan. Pastinya disertai
dengan perasaan menyesal. Karena ada beberapa alasan yang kita tidak ketahui
mengapa mereka atau orang lain begitu sulit untuk memaafkan. Tidak ada yang
bisa kita lakukan selain jujur dan tulus mengutarakan perasaan dan maaf kepada
mereka. Selebihnya biarkan saja, karena kita tidak bisa sepenuhnya pegang
kendali. Yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa. Karena bagaimana pun, di situasi
seperti ini, Allah sedang menunjukkan kuasanya, bahwa hanya Dia lah, Dzat yang
Maha membolak-balikkan hati.*asp
Emas memang berharga Namun tiada artinya, jika dibawa oleh kawanan kera, masuk ke hutan belantara.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Jumpa kembali kawan. Lama saya tidak menulis di blog ini. Mungkin sekitar 2013 kali ya? Iya, tulisan terakhir saya 2013. Berapa tahun tuh? Ahahaha. Alasan lama saya tidak menulis, karena segala ketikkan saya berpindah ke medsos, Seperti FB, IG, Twitter, WA, Line, dll. Selain itu juga karena kesibukkan kantor. Yah, saya 2016 sudah mulai bekerja di Bogor, di salah satu lembaga riset nasional, kemudian resign di 2018 karena saya memilih untuk melanjutkan studi. Sayang banget kan ya? Maybe yes, maybe no, ahahahah. Tapi tenang, sekarang saya sudah mulai kurang-kurangi aktivitas di media sosial yang saya sebut tadi. Ngerasa gimana ya? Konten mulai gak sehat aja sih. Dan kurang bisa dibaca oleh umum. Kalo di sini kan enak. Bebas. Wahahaha.
Okrek, 2020, tahun yang penuh dengan fenomena gak wajar. Teman-teman pasti tahu lah ya ada kejadian apa. Wabah virus Corona atau yang disebut Covid19 karena konon ditemukannya tahun 2019 bulan Desember dan tersebar di banyak negara tahun 2020. Konon awal mula wabah berasal dari negeri Tirai Bambu atau China. Berbagai macam teori dikemukakan tentang virus ini, menjadi bahan perdebatan masyarakat dunia. Tak luput di Indonesia pun juga demikian. Di Indonesia, ada hal lain yang ikutan ramai dibicarakan, adalah polemik perbedaan arti kata Mudik dan Pulang Kampung. Hal tersebut mendadak viral di tengah-tengah wabah virus, mengalahkan berita-berita yang lain. Suka gitu sih warga +62 (termasuk saya), ahahahah. Sebelum ke inti, saya ingin bercerita sedikit yang masih berkaitan dengan permainan kata. Perdebatan dalam mengartikan kata Mudik dan Pulang Kampung mengingatkan diskusi saya dengan seorang kawan, yang membahas perbedaan Mercon (petasan) dengan Kembang Api.
Oh ya, sebelum saya lanjutin, saya ingin menyampaikan kalo saya bukan ahli tata bahasa. Saya juga bukan orang sastra. Bukan pakar ahlinya ahli, intinya inti, core of the core, wkwkw. Bahkan saya tidak terlalu suka puisi syair apalah itu. Saya hanya lulusan teknik. Ya setidaknya saya pernah nulis laporan Tugas Akhir di kampus D3 dan nyusun skripsi di S1. Sama dikit-dikit belajar nulis jurnal lah. Ahaha. Dan di postingan ini saya tidak bermaksud membela siapapun terkait polemik pengartian Mudik dengan Pulang Kampung.
Kembang Api
Lanjut tentang Petasan dan Kembang Api. Jadi waktu itu ceritanya adalah momen malam tahun baru 2019-2020 kalo gak salah. Saya bertanya kepada kawan saya satu itu melalui WA, “Heh, metu metu kono loh, ndelok merconan. (Heh, keluar sana geh, liat orang main petasan)”. Saya pikir akan menjadi percakapan singkat. Mengingat kawan saya satu ini super sibuk. Entah sibuk bekerja atau sibuk mempersiapkan pernikahannya yang konon disegerakan tahun 2020 ini. Rupanya tidak. Orang ini menanggapi dan menertawakan saya. Selayaknya menertawakan orang dungu, saya merasakannya dari caranya menulis. “Opo? Mercon? Wahahaha. Ndi onok mercon? Iku jenenge kembang api leee. Wahahaha, mercon jare. (Apa? Petasan? Wahahah. Mana ada petasan? Itu namanya kembang api naaak. Wahahah, petasan katanya)”. Puas dia. Tertawa dia. Saya diam sejenak sambil bergumam, “Ni bocah abis nelen apa yak?”. Saya diam pun, dia masih melanjutkan tertawanya. Asli! Bingung saya ini. Karena pemahaman saya dari sejak kecil, kembang api itu yang kecil, bertangkaikan logam, dan tidak memunculkan suara dentuman atau letusan. Aman. Sedangkan petasan adalah sesuatu yang disulut api, menimbulkan letusan atau dentuman, bersifat menghibur, namun berbahaya. Memiliki fatalitas tinggi jika salah penggunaannya.
Merconan
Sambung dari kawan saya tadi, bahwa petasan itu seperti yang di sulut anak-anak semasa lebaran Idul Fitri. Berbahankan kertas yang digulung dan beberapa bahan kimia sebagai komposisi peledak. Saya pun berhenti dan berpikir, jika memang itu yang ada di otak kawan saya, bagaimana dengan sebutan mercon tikus, mercon bumbung, air mancur, kembang tetes? Benda-benda tersebut masuk dalam kategori apa? Kembang Api atau Petasan? Wahahaha. Saya pun kumpulkan bukti bahwa barang-barang tersebut memiliki nama-nama yang berbeda. Awalnya yang dia menertawakan saya, berujung pada pemblokiran kontak WA oleh kawan saya. Ahahahah. Ini saya yang terlalu cupu, kudet, goblok, atau dia aja yang terlalu intelek, saklek, leterlek? Ya entahlah. Setidaknya pemblokiran kontak tadi dapat memadamkan diskusi yang berujung emosi. Wahahahaha. Dari situ juga saya dapat memahami, bahwa pemaknaan kata kadangbisa saja tidak perlu dicari di dalam kamus. Karena tiap-tiap orang bisa memiliki pemaknaannya sendiri akan suatu hal. Oh, jadi mau Kembang Api atau Petasan tergantung siapa yang menyampaikannya ya? Bisa jadi demikian. Diskusinya saja tidak selesai, haha. Kita lanjutkan dulu.
Lantas bagaimana dengan Pulang Kampung dengan Mudik? Sebelum kita bahas, mari kita baca bersama dari sumber kredibel yang kita tau pastinya, KBBI. Berikut adalah arti kata “Mudik” menurut KBBI:
Sumber: kbbi.web.id
Sumber: tesaurus.kemdikbud.go.id
Sumber: kbbi.kemdikbud.go.id
Uwaaaah! Ada tiga sumber nih. Bagaimana? Mana yang paling benar? Sebenernya terserah sih mau yang mana. Toh sama-sama KBBI. Terlebih ada yang dari Kemendikbud tuh. Jadi kesimpulannya gimana? Eeitss! Tunggu dulu. Sebelum kesana, kita simak dulu bagaimana tanggapan warganet yang dengan segala celotehnya terhadap polemik ini. Saya sertakan beberapa tangkapan layar alias screeshot yang saya dapat di internet.
Sumber: Instagram
Sumber: Facebook
Sumber: Twitter
Sumber: Youtube
Wah, ngeri juga warganet kita, ahahaha. Baik, kita akan bagi dua bahasan dan kupas satu persatu. Pertama tanggapan warganet. Ada yang mengatakan bahwa Mudik dengan Pulang Kampung itu adalah sama. Namun ada yang mengatakannya berbeda. Menurut warganet yang mengatakan berbeda, Pulang Kampung diartikan sebagai perpindahan sekelompok orang atau masyarakat dikarenakan di tempat mereka bekerja tutup, sudah tidak ada lagi pekerjaan, tidak ada lagi penghasilan. Sedang keluarganya, seperti anak, istri, atau mungkin orang tua, ada di kampung (di wilayah lain, jauh dari tempat kerjanya). Mungkin contohnya seperti orang-orang yang bekerja di luar kota, luar provinsi, atau pulau, tapi tidak memiliki tempat tinggal tetap di dekat tempat kerjanya. Semisal rumah saya di Malang, tapi saya bekerja di Pasuruan, namun saya menyewa rumah atau kostan. Sedangkan Mudik, diartikan sebagai fenomena hari raya Idul Fitri, saling kunjung ke sanak keluarga. Kemudian warganet yang mengatakan keduanya adalah sama, tentunya mereka menggunakan dasar KBBI dan kebiasaan mereka dalam menyebut aktivitas Mudik adalah Pulang Kampung, pun dengan sebaliknya. Menurut saya, membuat arti dan/atau makna Mudik dengan Pulang Kampung menjadi berbeda, dengan penjelasan yang demikian, jelas sangat memaksakan. Mau dipisah dibedakan dengan pemaknaan yang cenderung “Terserah Anda” seperti apapun, di utak-atik bagaimanapun, artinya tetaplah sama. Kenapa? Karena kalau kita coba kembalikan pada KBBI seperti yang saya lampirkan sebelumnya, maka arti Mudik dan Pulang Kampung adalah, SAMA, secara harfiah. Jika kita perhatikan masyarakat kita, jauh sebelum polemik ini ada, mereka juga menggunakan kata Mudik sebagai aktivitas Pulang Kampung kok. Contoh saja saya yang sempat bekerja di Bogor. Ketika saya berkemas ingin pulang ke rumah di Jawa Timur, teman-teman yang mengetahui persiapan saya selalu bertanya, “Mudik mas?”. Ya tentu saja jawab “Iya, pak”. Padahal kala itu bukan perayaan Idul Fitri. Benar-benar hari biasa. Tidak ada event apapun. Hanya ingin pulang. Bahkan jika ditelusuri lebih dalam, bahwa Mudik berasal dari kata Udik yang berarti Kampung. Sementara itu sebagian warganet juga membuat ungkapan serupa bahwa Mudik itu singkatan dari Mulih Dilik (jawa) yang berarti Pulang Sebentar. Entah sengaja singkatan itu dibuat, darimana asal-usul singkatan tersebut, dan sejak kapan singkatan itu ada, saya sendiri kurang tau, ahahaha, ada-ada saja. Tetapi jika kita pikir dengan ilmu cocoklogi, masuk akal juga yah, ahahaha?
Lalu mengapa polemik Mudik dengan Pulang Kampung ini ramai terjadi? Rupanya ini bermula dari
pernyataan seorang pejabat negara Indonesia, yakni bapak presiden Joko Widodo. Pernyataan beliau yang secara tidak langsung mengatakan bahwa Mudik dengan Pulang Kampung berbeda, adalah karena menjawab pertanyaan mbak Najwa pada sebuah acara televisi Matanajwa. Dan ini yang menjadi bahasan kedua kita. Kenapa beliau, bapak presiden yang merupakan orang nomor wahid di Indonesia bisa menyampaikan pernyataan yang dinilai keliru seperti itu? Karena beliau masih manusia, wajar bisa keliru, saya juga kok, ahahaha, bukan, bukan gitu. Pertanyaan yang disampaikan oleh mbak Najwa adalah soal perpindahan penduduk, berjumlah 900 ribu orang lebih, yang mencuri start mudik di kala peraturan pembatasan dan pelarangan mudik sedang ditinjau. Kurang lebih seperti berikut ini pertanyaan mbak Najwa kepada bapak presiden di acara tersebut.
“... data dari kemenhub sudah hampir 1 juta orang curi start mudik, sudah 900rb orang yang sudah mudik dan yang sudah tersebar ke berbagai daerah. Apakah berarti ini memang keputusan melarang itu, yang baru akan dikeluarkan melihat situasi, tapi faktanya sudah terjadi penyebaran orang di daerah, bapak?”
Tanggapan dan jawaban sederhana dari bapak Presiden pada acara tersebut, yang saya kutip kalimatnya menjadi tulisan di sini, yang menjadikan polemik di negeri kita.
“Kalo itu bukan mudik, itu namanya pulang kampung ...”
Nah, untuk lebih jelas dan lengkapnya, teman-teman bisa menyimak video rekaman dari acara tersebut.
Sudah nonton, kan? Bagaimana? Apa yang teman-teman dapatkan dari seluruh percakapan yang ditayangkan pada video tersebut? Atau malah bingung? Baik, sebenarnya jika saya diijinkan berpendapat melalui blog ini, maka saya akan katakan percakapan yang ada pada video itu ibarat percakapan antara penumpang dan abang ojek di atas sepeda motor yang berjalan agak kencang. Ditambah dengan gangguan dari terpaan angin. Maksudnya? Gak jelas bin gak nyambung. Mbak Najwa sedari awal video tersebut arah percakapannya adalah tentang penyebaran virus dan perpindahan atau pergerakan masyarakat yang dikhawatirkan memperparah penyebaran virus Corona. Sedangkan tanggapan pak Presiden yang cukup diplomatis menurut saya, menjawab perlahan seluruh pertanyaan dengan masalah sosial serta ekonomi. Maksud dari bapak Presiden di video tersebut sebenarnya baik. Beliau menimbang beberapa aspek sosial, ekonomi, dan tidak luput juga dengan kesehatan. Beliau beranggapan angka atau jumlah masyarakat yang kata beliau Pulang Kampung sedikit, sedang ditempat rantauan kalau saya bilang sudah tidak ada pekerjaan, dan bisa saja malah menjadi masalah baru seperti kelaparan, sehingga ada “pembiaran” (ç saya tidak tau harus sebut apa) terhadap angka kecil itu. Iya, yang 900 ribu orang lebih itu. Dan masih menurut beliau, toh nanti ketika sampai di kampung halamannya akan ada isolasi, karantina segala macam sehingga penyebaran diharapkan tidak masif. Mungkin akan lebih sejuk apabila bapak Presiden jika jawabannya saya revisi dengan kalimat-kalimat lugas seperti ini:
“Aturan larangan mudik belum terbit saja sudah terjadi demikian. Bagaimana jika kami langsung melarangnya saat itu juga? Dikhawatirkan nanti malah terjadi penumpukan orang di suatu tempat yang justru tidak menyelesaikan masalah malah membuat masalah baru. Kita lihat data di lapangan, detil angkanya, ... dst.”
Menurut saya itu lebih sejuk, lebih bisa diterima (walau mungkin masih saja ditolak buat orang yang gak suka), masih masuk akal, bisa dirasakan juga dengan hati. Ketimbang dengan mengatakan hal demikian yang menyebabkan perdebatan di dunia maya yang saya sendiri sejujurnya baru kali ini ikut tertawa melihat meme meme berkeliaran di internet yang membahas ini, wahahaha. Cuma saya gak tau lagi kalau itu kemarin sengaja dibuat untuk menciptakan hiburan dikala pandemi agar masyarakat gak setres, wkwkwk. Tapi kayaknya gak mungkin sih. Pun demikian dengan mbak Najwa yang menimpali balik jawaban bapak Presiden dengan pertanyaan:
“Apa bedanya bapak pulang kampung dan mudik? ... kan sama ... hanya perbedaan masalah waktu bapak ... tapi itu kan hanya perbedaan timing bapak presiden, tapi aktivitasnya sama mereka pulang dan kemungkinan membawa virus ke rumah itu juga sama”
Menurut saya cukup langsung Iya kan saja, sih. Karena selain dapat mempersingkat waktu percakapan, bisa langsung kembali ke pokok bahasan, masyarakat yang menonton pun tidak melihat video tersebut seperti kuis Cerdas Cermat. Bukan maksud menggurui sih, tapi gimana ya? Wkwkw. Kalimat mbak Najwa yang seperti saya tulis ulang tadi, seolah seperti mendebat, tidak terima. Saya coba tonton videonya berulang kali, saya ulang-ulang, saya perhatikan juga gerak bibir, mimik wajah, arah dan gerakan tangan, baik bapak Presiden maupun mbak Najwa, ada seperti sedikit ngotot kalau saya bilang (waktu bahas Mudik dengan Pulang Kampung). Ya semoga tidak demikian yang terjadi. Kalau dari saya mungkin sebaiknya begini:
“Iya, maksud saya Pulang Kampung bapak presiden ... dst.”
Mungkin mbak Najwa akan beranggapan bahwa itu salah dan yang dibenaknya adalah “Mudik dengan Pulang Kampung itu kan sama? Masa iya saya harus Iya in?”. Bagi saya hal tersebut, khususnya dalam percakapan di video itu, tidak penting benar atau salahnya. Karena masyarakat pun juga ingin mendengar bagaimana tanggapan langsung dari bapak Presiden mengenai data 900 ribu orang lebih itu, mbak. Wkwkwk. Tapi ya, semua sudah terlanjur. Sudah jadi video kan? Dan sudah ditonton banyak orang juga. Yaudah.
Nah, jadi intinya apa? Intinya saya capek ngetik artikel ini, wahahaha. Bayangin coba, dari sejak perdebatan ini beredar, saya tonton videonya berulang kali sambil memastikan sebenarnya apa yang dibahas di dalam video tersebut. Bagaimana kedua tokoh di video itu saling bercengkrama. Kata yang dipilih apa saja. Dan artikel ini saya tulis perlu waktu 4 harian, mungkin lebih ya, wkwkwk (curhat boss?). Ya, jadi kesimpulannya adalah sebaiknya tidak memaksa memberi makna pada sepatah dua patah kata pada percakapan di ruang publik. Ibarat hutan, tak mungkin hanya berisi singa dan domba. Ada monyet, ada biawak, ada kadal, ada anjing, kucing, tikus, perkutut, kutilang, emprit, dll. Kita punya KBBI, kita punya lembaga bahasa. Pun demikian dengan adab bercakap berdiskusi jika di ruang publik, mungkin kita benar, mungkin kita menang, tapi terkadang kita perlu sedikit mengamalkan apa yang disampaikan pak Bob Sadino, “Kosongkan Gelasmu Dulu Setiap Bertemu Orang Baru”. Orang baru tidak selalu orang dalam arti sesungguhnya. Tapi bisa juga topik pembicaraan yang sedang kita angkat.