Minta Maaf Ada Seninya

Artikel ini saya mulai ketik pukul 1 dini hari. Tentu adalah waktu bagi sebagian besar orang untuk beristirahat. Dan sebagian yang lain menjaga istirahatnya orang-orang agar makin tenang dan nyenyak. Namun tidak dengan orang-orang seperti saya, yang terjaga hanya untuk melakukan sesuatu yang jika orang lain nilai sangat tidak penting. Yaps! Menanggapi persoalan sosial.

Di tengah sibuknya pengerjaan skripsi yang menurut saya lebih pas dikerjakan oleh remaja usia 24 ke bawah, rupanya mau tak mau saya pun harus ikut di dalamnya berikut dengan persoalan-persoalan yang ada baik individu maupun kelompok. Sebuah hal yang cukup sebagai bahan lawakan bagi pemuda usia 27 ke atas. Tapi tak mengapa. Saya benar-benar tidak bermaksud membedakan usia, golongan, atau apapun itu. Justru dengan demikian saya bisa merefleksikan diri bagaimana saya pada masa lalu. Ada seni tersendiri yang harus dipelajari ketika harus berbaur di lingkup generasi Z. Berbeda? Pasti!

Bicara mengenai seni, tak mengikat hanya pada suatu yang bersifat hiburan. Namun dalam bersikap pun juga ada seninya. Contoh saja seni dalam mengungkapkan sebuah penyesalan. Singkatnya seni dalam meminta maaf. Banyak yang salah sangka dan mengira, kalimat “Maaf saja tak cukup” berarti seseorang (yang kita mintakan maaf) tersebut menginginkan hal lebih. Hal ini dikarenakan ungkapan permintaan maaf hanya dijadikan sebuah formalitas. Menjadikan sebuah permintaan maaf adalah syarat agar masalah cepat selesai, tapi tidak ada penyesalan dalam dirinya. Tak hanya itu, ungkapan maaf seharusnya diniatkan untuk menjaga sebuah hubungan kekerabatan dan silaturahmi agar tidak terputus, dan menjadi lebih baik lagi. Itu yang banyak orang lain lupakan (mungkin saya pun juga demikian tanpa disadari). Seperti halnya bela diri, tidak melulu tentang memukul dan menangkis. Serang dan bertahan. Tetapi ada muatan unsur seni di dalamnya yang juga patut untuk dipahami. Atau sulap, bukan soal berhasil tidaknya sebuah trik untuk mengelabui orang. Tetapi bagaimana membawa trik sulap tersebut dengan seni agar orang lain terpukau dan terkesima. Meminta maaf pun demikian, seni dalam mengungkapkan kata maaf sangatlah penting.

Pada sebuah artikel yang pernah saya baca, ada 4 seni meminta maaf. Pertama soal waktu. Tidak ada waktu terlambat untuk meminta maaf bukan berarti setiap permasalahan atau setiap kita merasa bersalah harus segera meminta maaf. Tapi cari waktu yang pas sehingga ungkapan maaf kita bisa dimengerti dan segera diterima. Yaitu ketika kita telah menganalisis situasi dan khawatir tentang apa yang terjadi. Pastikan emosi kita dalam kondisi terbaik dan menemukan cara untuk mengungkapkan maaf tersebut. Hal ini menjadikan ungkapan maaf tidak sebatas ucapan, namun benar-benar atas dasar penyesalan yang mendalam, membangun kembali dinding kepercayaan yang runtuh, serta berusaha untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya alias tidak mengulangi kembali kesalahan. Mengapa ini penting, karena tidak semua orang mau menerima maaf kita dan mau mengerti kita sesegera mungkin. Mereka yang kita mintakan maaf terkadang butuh waktu untuk “sendiri”, mencari cara bagaimana untuk bisa kembali percaya pada kita. Mengandalkan kalimat “yang penting aku dah minta maaf” cukup berbahaya. Itu sama sekali tidak mencerminkan kita untuk menyesali apa yang kita perbuat sebelumnya. Silahkan gunakan kalimat tersebut, ketika seluruh usaha kita dalam meminta maaf sudah kita lakukan. Lantas apakah ada hal lain?

Kedua yaitu fokus pada empati dan akui tindakan. Tidak berbeda dari yang saya sampaikan sebelumnya, yaitu mengakui kesalahan. Bersikap empati dapat memberi tahu siapapun yang ingin kita temui untuk meminta maaf bahwa kita peduli dengan perasaan mereka. Akui bahwa kita menyesal telah melakukan kesalahan. Dan perlakukan tersebut mungkin membawa dampak buruk bagi mereka. Ini penting karena dengan demikian kita menunjukkan bahwa kita menghargai mereka dan menganggap mereka penting. Serta mengembalikan keadaan menjadi rukun dan tenteram kembali.

"Analogi semangkuk sup. Jika semangkuk sup kita bawa sambil berlari, maka bukan tak mungkin sup tadi tumpah entah kemana. Dan yang awalnya punya tampilan cantik menggunggah selera, menjadi berantakan bak muntahan kucing yang tak karuan."

Selanjutnya adalah “membawakan sesuatu” untuk mereka. Definisi “membawakan sesuatu” tidak harus berupa benda. Atau diartikan sebagai sebuah “sogokan” atau hal negatif lainnya. Justru cara ini menunjukkan bahwa kita serius berusaha lebih dan ingin membuat hubungan terasa lebih baik. Saya teringat kejadian sekitar tahun 2008 silam, ketika saya harus “bermusuhan” dengan teman dekat saya. Saya dan teman saya yang ketika itu masih sama-sama bocah pada sekolah menengah, di mana kala itu ego dari masing-masing kita cukup kuat. Kalimat “Ah gitu doang” menjadi andalan meski secara tersirat. Tetapi pada kala itu saya sadar bahwa saya berada pada posisi yang salah. Saya membuat teman saya marah karena saya tidak sengaja terlalu dekat dengan seorang gadis yang ternyata dia adalah pacarnya. Saya tidak ada hubungan apa-apa, hanya sebatas teman biasa. Mungkin jika ini diceritakan sekarang, maka bukan tidak mungkin pendapat semacam “Njirr cowo kok baperan” muncul. Ucapan maaf saya nilai tidak akan mempan saat itu. Karena yang saya inginkan adalah hubungan pertemanan segera membaik. Termenung. Akhirnya saya menemukan cara, yakni perform dengan beberapa trik sulap yang saya pelajari. Berharap teman saya tertarik salah satu trik dan ingin mempelajarinya. YES!!! Cara itu ampuh! Dan ketegangan antara saya dan teman saya pun berakhir dengan cepat, semuanya kembali normal, api pun padam. Tentu saja itu saya selipkan ungkapan maaf meski cukup tersirat. Pikirkan hal apa yang kiranya itu dapat diselingi ungkapan maaf. Tidak harus ungkapan yang tersurat. Tersirat pun boleh. Beri sesuatu yang mereka suka, menyenangkan, dan semangati mereka. Kadang bentuk perhatian kecil sudah cukup menunjukkan keseriusan kita dalam mengungkapkan maaf. Tidak harus mahal, kan?

Terakhir, biarkan. Ketika segala macam usaha tidak membuahkan hasil, tetaplah untuk tenang. Kalimat, “Yang penting aku dah minta maaf” sepertinya mulai bisa digunakan. Pastinya disertai dengan perasaan menyesal. Karena ada beberapa alasan yang kita tidak ketahui mengapa mereka atau orang lain begitu sulit untuk memaafkan. Tidak ada yang bisa kita lakukan selain jujur dan tulus mengutarakan perasaan dan maaf kepada mereka. Selebihnya biarkan saja, karena kita tidak bisa sepenuhnya pegang kendali. Yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa. Karena bagaimana pun, di situasi seperti ini, Allah sedang menunjukkan kuasanya, bahwa hanya Dia lah, Dzat yang Maha membolak-balikkan hati.*asp


Emas memang berharga
Namun tiada artinya,
jika dibawa oleh kawanan kera,
 masuk ke hutan belantara.

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram