Reading
Add Comment
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.Jumpa kembali kawan. Lama saya tidak menulis di blog ini. Mungkin sekitar 2013 kali ya? Iya, tulisan terakhir saya 2013. Berapa tahun tuh? Ahahaha. Alasan lama saya tidak menulis, karena segala ketikkan saya berpindah ke medsos, Seperti FB, IG, Twitter, WA, Line, dll. Selain itu juga karena kesibukkan kantor. Yah, saya 2016 sudah mulai bekerja di Bogor, di salah satu lembaga riset nasional, kemudian resign di 2018 karena saya memilih untuk melanjutkan studi. Sayang banget kan ya? Maybe yes, maybe no, ahahahah. Tapi tenang, sekarang saya sudah mulai kurang-kurangi aktivitas di media sosial yang saya sebut tadi. Ngerasa gimana ya? Konten mulai gak sehat aja sih. Dan kurang bisa dibaca oleh umum. Kalo di sini kan enak. Bebas. Wahahaha.
Okrek, 2020, tahun yang penuh dengan fenomena gak wajar. Teman-teman pasti tahu lah ya ada kejadian apa. Wabah virus Corona atau yang disebut Covid19 karena konon ditemukannya tahun 2019 bulan Desember dan tersebar di banyak negara tahun 2020. Konon awal mula wabah berasal dari negeri Tirai Bambu atau China. Berbagai macam teori dikemukakan tentang virus ini, menjadi bahan perdebatan masyarakat dunia. Tak luput di Indonesia pun juga demikian. Di Indonesia, ada hal lain yang ikutan ramai dibicarakan, adalah polemik perbedaan arti kata Mudik dan Pulang Kampung. Hal tersebut mendadak viral di tengah-tengah wabah virus, mengalahkan berita-berita yang lain. Suka gitu sih warga +62 (termasuk saya), ahahahah. Sebelum ke inti, saya ingin bercerita sedikit yang masih berkaitan dengan permainan kata. Perdebatan dalam mengartikan kata Mudik dan Pulang Kampung mengingatkan diskusi saya dengan seorang kawan, yang membahas perbedaan Mercon (petasan) dengan Kembang Api.
Oh ya, sebelum saya lanjutin, saya ingin menyampaikan kalo saya bukan ahli tata bahasa. Saya juga bukan orang sastra. Bukan pakar ahlinya ahli, intinya inti, core of the core, wkwkw. Bahkan saya tidak terlalu suka puisi syair apalah itu. Saya hanya lulusan teknik. Ya setidaknya saya pernah nulis laporan Tugas Akhir di kampus D3 dan nyusun skripsi di S1. Sama dikit-dikit belajar nulis jurnal lah. Ahaha. Dan di postingan ini saya tidak bermaksud membela siapapun terkait polemik pengartian Mudik dengan Pulang Kampung.
![]() |
| Kembang Api |
![]() |
| Merconan |
Lantas bagaimana dengan Pulang Kampung dengan Mudik? Sebelum kita bahas, mari kita baca bersama dari sumber kredibel yang kita tau pastinya, KBBI. Berikut adalah arti kata “Mudik” menurut KBBI:
Uwaaaah! Ada tiga sumber nih. Bagaimana? Mana yang paling benar? Sebenernya terserah sih mau yang mana. Toh sama-sama KBBI. Terlebih ada yang dari Kemendikbud tuh. Jadi kesimpulannya gimana? Eeitss! Tunggu dulu. Sebelum kesana, kita simak dulu bagaimana tanggapan warganet yang dengan segala celotehnya terhadap polemik ini. Saya sertakan beberapa tangkapan layar alias screeshot yang saya dapat di internet.
![]() |
| Sumber: Instagram |
![]() |
| Sumber: Facebook |
Wah, ngeri juga warganet kita, ahahaha. Baik, kita akan bagi dua bahasan dan kupas satu persatu. Pertama tanggapan warganet. Ada yang mengatakan bahwa Mudik dengan Pulang Kampung itu adalah sama. Namun ada yang mengatakannya berbeda. Menurut warganet yang mengatakan berbeda, Pulang Kampung diartikan sebagai perpindahan sekelompok orang atau masyarakat dikarenakan di tempat mereka bekerja tutup, sudah tidak ada lagi pekerjaan, tidak ada lagi penghasilan. Sedang keluarganya, seperti anak, istri, atau mungkin orang tua, ada di kampung (di wilayah lain, jauh dari tempat kerjanya). Mungkin contohnya seperti orang-orang yang bekerja di luar kota, luar provinsi, atau pulau, tapi tidak memiliki tempat tinggal tetap di dekat tempat kerjanya. Semisal rumah saya di Malang, tapi saya bekerja di Pasuruan, namun saya menyewa rumah atau kostan. Sedangkan Mudik, diartikan sebagai fenomena hari raya Idul Fitri, saling kunjung ke sanak keluarga. Kemudian warganet yang mengatakan keduanya adalah sama, tentunya mereka menggunakan dasar KBBI dan kebiasaan mereka dalam menyebut aktivitas Mudik adalah Pulang Kampung, pun dengan sebaliknya. Menurut saya, membuat arti dan/atau makna Mudik dengan Pulang Kampung menjadi berbeda, dengan penjelasan yang demikian, jelas sangat memaksakan. Mau dipisah dibedakan dengan pemaknaan yang cenderung “Terserah Anda” seperti apapun, di utak-atik bagaimanapun, artinya tetaplah sama. Kenapa? Karena kalau kita coba kembalikan pada KBBI seperti yang saya lampirkan sebelumnya, maka arti Mudik dan Pulang Kampung adalah, SAMA, secara harfiah. Jika kita perhatikan masyarakat kita, jauh sebelum polemik ini ada, mereka juga menggunakan kata Mudik sebagai aktivitas Pulang Kampung kok. Contoh saja saya yang sempat bekerja di Bogor. Ketika saya berkemas ingin pulang ke rumah di Jawa Timur, teman-teman yang mengetahui persiapan saya selalu bertanya, “Mudik mas?”. Ya tentu saja jawab “Iya, pak”. Padahal kala itu bukan perayaan Idul Fitri. Benar-benar hari biasa. Tidak ada event apapun. Hanya ingin pulang. Bahkan jika ditelusuri lebih dalam, bahwa Mudik berasal dari kata Udik yang berarti Kampung. Sementara itu sebagian warganet juga membuat ungkapan serupa bahwa Mudik itu singkatan dari Mulih Dilik (jawa) yang berarti Pulang Sebentar. Entah sengaja singkatan itu dibuat, darimana asal-usul singkatan tersebut, dan sejak kapan singkatan itu ada, saya sendiri kurang tau, ahahaha, ada-ada saja. Tetapi jika kita pikir dengan ilmu cocoklogi, masuk akal juga yah, ahahaha?
Lalu mengapa polemik Mudik dengan Pulang Kampung ini ramai terjadi? Rupanya ini bermula dari
pernyataan seorang pejabat negara Indonesia, yakni bapak presiden Joko Widodo. Pernyataan beliau yang secara tidak langsung mengatakan bahwa Mudik dengan Pulang Kampung berbeda, adalah karena menjawab pertanyaan mbak Najwa pada sebuah acara televisi Matanajwa. Dan ini yang menjadi bahasan kedua kita. Kenapa beliau, bapak presiden yang merupakan orang nomor wahid di Indonesia bisa menyampaikan pernyataan yang dinilai keliru seperti itu? Karena beliau masih manusia, wajar bisa keliru, saya juga kok, ahahaha, bukan, bukan gitu. Pertanyaan yang disampaikan oleh mbak Najwa adalah soal perpindahan penduduk, berjumlah 900 ribu orang lebih, yang mencuri start mudik di kala peraturan pembatasan dan pelarangan mudik sedang ditinjau. Kurang lebih seperti berikut ini pertanyaan mbak Najwa kepada bapak presiden di acara tersebut.
pernyataan seorang pejabat negara Indonesia, yakni bapak presiden Joko Widodo. Pernyataan beliau yang secara tidak langsung mengatakan bahwa Mudik dengan Pulang Kampung berbeda, adalah karena menjawab pertanyaan mbak Najwa pada sebuah acara televisi Matanajwa. Dan ini yang menjadi bahasan kedua kita. Kenapa beliau, bapak presiden yang merupakan orang nomor wahid di Indonesia bisa menyampaikan pernyataan yang dinilai keliru seperti itu? Karena beliau masih manusia, wajar bisa keliru, saya juga kok, ahahaha, bukan, bukan gitu. Pertanyaan yang disampaikan oleh mbak Najwa adalah soal perpindahan penduduk, berjumlah 900 ribu orang lebih, yang mencuri start mudik di kala peraturan pembatasan dan pelarangan mudik sedang ditinjau. Kurang lebih seperti berikut ini pertanyaan mbak Najwa kepada bapak presiden di acara tersebut.
“... data dari kemenhub sudah hampir 1 juta orang curi start mudik, sudah 900rb orang yang sudah mudik dan yang sudah tersebar ke berbagai daerah. Apakah berarti ini memang keputusan melarang itu, yang baru akan dikeluarkan melihat situasi, tapi faktanya sudah terjadi penyebaran orang di daerah, bapak?”
Tanggapan dan jawaban sederhana dari bapak Presiden pada acara tersebut, yang saya kutip kalimatnya menjadi tulisan di sini, yang menjadikan polemik di negeri kita.
“Kalo itu bukan mudik, itu namanya pulang kampung ...”
Nah, untuk lebih jelas dan lengkapnya, teman-teman bisa menyimak video rekaman dari acara tersebut.
Sudah nonton, kan? Bagaimana? Apa yang teman-teman dapatkan dari seluruh percakapan yang ditayangkan pada video tersebut? Atau malah bingung? Baik, sebenarnya jika saya diijinkan berpendapat melalui blog ini, maka saya akan katakan percakapan yang ada pada video itu ibarat percakapan antara penumpang dan abang ojek di atas sepeda motor yang berjalan agak kencang. Ditambah dengan gangguan dari terpaan angin. Maksudnya? Gak jelas bin gak nyambung. Mbak Najwa sedari awal video tersebut arah percakapannya adalah tentang penyebaran virus dan perpindahan atau pergerakan masyarakat yang dikhawatirkan memperparah penyebaran virus Corona. Sedangkan tanggapan pak Presiden yang cukup diplomatis menurut saya, menjawab perlahan seluruh pertanyaan dengan masalah sosial serta ekonomi. Maksud dari bapak Presiden di video tersebut sebenarnya baik. Beliau menimbang beberapa aspek sosial, ekonomi, dan tidak luput juga dengan kesehatan. Beliau beranggapan angka atau jumlah masyarakat yang kata beliau Pulang Kampung sedikit, sedang ditempat rantauan kalau saya bilang sudah tidak ada pekerjaan, dan bisa saja malah menjadi masalah baru seperti kelaparan, sehingga ada “pembiaran” (ç saya tidak tau harus sebut apa) terhadap angka kecil itu. Iya, yang 900 ribu orang lebih itu. Dan masih menurut beliau, toh nanti ketika sampai di kampung halamannya akan ada isolasi, karantina segala macam sehingga penyebaran diharapkan tidak masif. Mungkin akan lebih sejuk apabila bapak Presiden jika jawabannya saya revisi dengan kalimat-kalimat lugas seperti ini:
“Aturan larangan mudik belum terbit saja sudah terjadi demikian. Bagaimana jika kami langsung melarangnya saat itu juga? Dikhawatirkan nanti malah terjadi penumpukan orang di suatu tempat yang justru tidak menyelesaikan masalah malah membuat masalah baru. Kita lihat data di lapangan, detil angkanya, ... dst.”
Menurut saya itu lebih sejuk, lebih bisa diterima (walau mungkin masih saja ditolak buat orang yang gak suka), masih masuk akal, bisa dirasakan juga dengan hati. Ketimbang dengan mengatakan hal demikian yang menyebabkan perdebatan di dunia maya yang saya sendiri sejujurnya baru kali ini ikut tertawa melihat meme meme berkeliaran di internet yang membahas ini, wahahaha. Cuma saya gak tau lagi kalau itu kemarin sengaja dibuat untuk menciptakan hiburan dikala pandemi agar masyarakat gak setres, wkwkwk. Tapi kayaknya gak mungkin sih. Pun demikian dengan mbak Najwa yang menimpali balik jawaban bapak Presiden dengan pertanyaan:
“Apa bedanya bapak pulang kampung dan mudik? ... kan sama ... hanya perbedaan masalah waktu bapak ... tapi itu kan hanya perbedaan timing bapak presiden, tapi aktivitasnya sama mereka pulang dan kemungkinan membawa virus ke rumah itu juga sama”
Menurut saya cukup langsung Iya kan saja, sih. Karena selain dapat mempersingkat waktu percakapan, bisa langsung kembali ke pokok bahasan, masyarakat yang menonton pun tidak melihat video tersebut seperti kuis Cerdas Cermat. Bukan maksud menggurui sih, tapi gimana ya? Wkwkw. Kalimat mbak Najwa yang seperti saya tulis ulang tadi, seolah seperti mendebat, tidak terima. Saya coba tonton videonya berulang kali, saya ulang-ulang, saya perhatikan juga gerak bibir, mimik wajah, arah dan gerakan tangan, baik bapak Presiden maupun mbak Najwa, ada seperti sedikit ngotot kalau saya bilang (waktu bahas Mudik dengan Pulang Kampung). Ya semoga tidak demikian yang terjadi. Kalau dari saya mungkin sebaiknya begini:
“Iya, maksud saya Pulang Kampung bapak presiden ... dst.”
Mungkin mbak Najwa akan beranggapan bahwa itu salah dan yang dibenaknya adalah “Mudik dengan Pulang Kampung itu kan sama? Masa iya saya harus Iya in?”. Bagi saya hal tersebut, khususnya dalam percakapan di video itu, tidak penting benar atau salahnya. Karena masyarakat pun juga ingin mendengar bagaimana tanggapan langsung dari bapak Presiden mengenai data 900 ribu orang lebih itu, mbak. Wkwkwk. Tapi ya, semua sudah terlanjur. Sudah jadi video kan? Dan sudah ditonton banyak orang juga. Yaudah.
Nah, jadi intinya apa? Intinya saya capek ngetik artikel ini, wahahaha. Bayangin coba, dari sejak perdebatan ini beredar, saya tonton videonya berulang kali sambil memastikan sebenarnya apa yang dibahas di dalam video tersebut. Bagaimana kedua tokoh di video itu saling bercengkrama. Kata yang dipilih apa saja. Dan artikel ini saya tulis perlu waktu 4 harian, mungkin lebih ya, wkwkwk (curhat boss?). Ya, jadi kesimpulannya adalah sebaiknya tidak memaksa memberi makna pada sepatah dua patah kata pada percakapan di ruang publik. Ibarat hutan, tak mungkin hanya berisi singa dan domba. Ada monyet, ada biawak, ada kadal, ada anjing, kucing, tikus, perkutut, kutilang, emprit, dll. Kita punya KBBI, kita punya lembaga bahasa. Pun demikian dengan adab bercakap berdiskusi jika di ruang publik, mungkin kita benar, mungkin kita menang, tapi terkadang kita perlu sedikit mengamalkan apa yang disampaikan pak Bob Sadino, “Kosongkan Gelasmu Dulu Setiap Bertemu Orang Baru”. Orang baru tidak selalu orang dalam arti sesungguhnya. Tapi bisa juga topik pembicaraan yang sedang kita angkat.
So, sampean Mudik atau Pulang Kampung, mas?
Maaf, saya MINGGAT!
-asp-
Opini











0 komentar:
Posting Komentar